Dalam Islam, lisan adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan lisan, kita bisa mengucapkan kalimat syahadat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Namun, lisan juga bisa menjadi sumber malapetaka jika tidak digunakan dengan bijak. Menjaga lisan dan menerapkan etika berbicara bukanlah hal sepele, melainkan cerminan dari kemuliaan akhlak seorang Muslim sejati.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini memberikan pedoman yang sangat jelas dan sederhana: pilihan kita hanya dua, antara berbicara kebaikan atau memilih diam jika tidak ada hal baik yang bisa diucapkan. Mengapa demikian? Karena setiap perkataan kita, baik yang terucap maupun yang tertulis (di media sosial), akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Bahaya Lisan yang Tidak Terjaga
Tanpa disadari, lisan yang tidak terkontrol bisa menjatuhkan kita ke dalam dosa-dosa besar, di antaranya:
1. Ghibah (Menggunjing)
Berbicara tentang keburukan orang lain di belakangnya, meskipun hal itu benar adanya. Ghibah diumpamakan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati
2. Namimah (Mengadu Domba)
Menyampaikan perkataan yang dapat merusak hubungan dan persaudaraan antar sesama, atau menciptakan fitnah.
3. Bohong dan Kesaksian Palsu
Berkata tidak sesuai dengan kenyataan, yang dapat merugikan orang lain dan menjauhkan diri dari kebenaran.
4. Kata-kata Kotor dan Laknat
Mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, yang dapat melukai hati orang lain dan merendahkan martabat diri sendiri.
Lisan yang Baik, Hati yang Sehat
Sebaliknya, lisan yang terjaga dapat menjadi sumber keberkahan dan kebaikan. Seorang Muslim yang menjaga lisannya akan mendapatkan banyak manfaat, seperti:
- Menghindari Permusuhan: Dengan bertutur kata yang sopan dan santun, seseorang akan dicintai oleh orang lain dan terhindar dari konflik.
- Mendatangkan Kebaikan: Lisan dapat digunakan untuk menasihati dalam kebaikan, mengajak pada kebenaran, dan berdzikir yang dapat mendatangkan pahala berlimpah.
- Menunjukkan Kedewasaan: Orang yang mampu mengendalikan lisannya menunjukkan kedewasaan berpikir dan kekuatan iman, karena ia tidak mudah terpancing emosi.
Pada akhirnya, etika berbicara adalah fondasi utama dari interaksi sosial yang Islami. Ia adalah bukti bahwa akhlak tidak hanya terlihat dari perbuatan, tetapi juga dari setiap kata yang kita ucapkan. Mari kita renungi kembali sabda Nabi ﷺ, “Barang siapa yang dapat menjamin kepadaku apa yang ada di antara kedua bibirnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua pahanya (kemaluan), niscaya aku jamin surga untuknya.“